U-green goes to BATAN!

Halo! Kali ini, CCE mengajak greeners jalan-jalan ke BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) pada Selasa, 17 Januari 2012. Pulang dari BATAN Taman Sari yang terletak di sebelah ITB ini, banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang perlu dibagi nih.

Kegiatan kunjungan ke BATAN ini diawali dengan pembukaan di ruangan auditorium. Di ruangan ini,  greeners disambut oleh Ibu Arie sebagai pemandu utama kunjungan. Pada sesi ini Ibu Arie memberi penjelasan mengenai teknologi nuklir, serta ada pula sesi tanya jawab.


Ibu Arie memberi penjelasan di auditorium

TENTANG BATAN BANDUNG
BATAN Bandung berdiri pada tahun 1964 dan disahkan oleh Presiden Soekarno. Sebelumnya, menurut UU No. 31 tahun 1964, BATAN dinyatakan sebagai lembaga pelaksana dan pengawas mengenai segala sesuatu yang terkait dengan nuklir. Kebijakan ini kemudian diubah melalui UU No. 10 tahun 1997 yang menyatakan BATAN sebagai pelaksana dan BAPETEN sebagai pengawas. Ini dimaksudkan agar pengawasan lebih terjamin.
DI BATAN Bandung atau biasa disebut PTNBR BATAN (Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri), terdapat beberapa fasilitas, yaitu:
1.    Fasilitas reaktor
2.    Fasilitas bidang fisika
3.    Fasilitas bidang K2 (Kesehatan dan Keselamatan)
4.    Fasilitas bidang BIE (Balai Instrumentasi & Elektromekanik)
5.    Fasilitas bidang SBR (Senyawa Bertanda & Radiometri)
6.    Fasilitas bidang UPN (Unit Pengamanan Nuklir)

Perbedaan Bidang K2 dengan UPN

K2: Memfasilitasi hal-hal seperti hand & foot monitor untuk mendeteksi radiasi yang diterima tubuh manusia.
UPN: Memfasilitasi keamanan dengan kamera pemantau di berbagai ruangan kerja untuk memastikan keselamatan pegawai dan pengunjung.

RADIASI NUKLIR
Nah, saat mendengar kata ‘nuklir’, apa sih yang ada di pikiran kalian? Bom? Bahaya? Radioaktif? Atau radiasi?

Umumnya, orang yang ditanya secara spontan akan menjawab nuklir = bom. Memang benar sih bom nuklir itu berbahaya, tapi yang harus diwaspadai dari teknologi nuklir ini adalah radiasinya. Batas radiasi yang dapat diterima tubuh kita adalah 50.000 msv. Radiasi sendiri tidak hanya berasal dari nuklir, tapi banyak yg berasal dari alam seperti matahari, tembok, tanah, bahkan manusia lain pun mengeluarkan radiasi. Radiasi yang diperoleh manusia sendiri 70% berasal dari alam.

Apa sih bahayanya radiasi? Menurut Ibu Arie, paparan radiasi yang melampaui standar batas yang dapat diterima tubuh manusia dapat menyebabkan kerusakan jaringan tubuh. Radiasi tidak dapat dideteksi oleh indra manusia, sehingga tanpa alat detector kita tidak tahu berapa banyak paparan radiasi yang sudah kita terima. Karena itulah, di BATAN sendiri, pekerjanya selalu diukur berapa paparan radiasinya sebelum dan sesudah bekerja. Jika pada suatu hari paparan radiasi seorang petugas melampaui standar batas yang dapat ditoleransi, maka petugas tersebut akan diistirahatkan.

MANFAAT NUKLIR
Setelah tahu bahaya dari radiasi nuklir, kenapa masih ada lembaga penelitian yang menggunakan nuklir sebagai objek utamanya? Tentunya karena selain punya bahaya radiasi, sebenarnya nuklir sendiri juga punya manfaat yang baik bagi manusia, jika digunakan dalam kadar yang tepat.

Manfaat nuklir yang sudah diterapkan di berbagai belahan dunia antara lain untuk hal-hal berikut:

1.    Kesehatan, contoh:
•    Jaringan Biologi Steril
Amnion dari ibu hamil tidak dibuang, namun diproses dengan nuklir dan dimanfaatkan kembali untuk menutup luka bakar atau       sambungan tulang
•    Alat-alat kesehatan seperti renograf, thyroid uptake, & gamma camera.

2.    Pertanian
•    Padi tahan hama (15 jenis)
•    Pupuk
•    Kedelai (5 jenis)
•    Kacang hijau
•    Kapas

3.    Peternakan
•    Nutrisi ternak
•    Reproduksi ternak
•    Kesehatan ternak

4.    Rekayasa bahan
5.    Hidrologi
6.    Radiometri
7.    Energi (PLTN)

Did you know?
•    Menurut Ibu Arie, pangan yang diproses dengan nuklir tidak dianggap berbahaya meskipun dimakan dalam jumlah banyak. Hal ini diakibatkan radiasi yang dilakukan hanya berlaku terhadap bibit pangan tersebut, tidak akan berpengaruh pada konsumen yang mengkonsumsinya (tidak ada akumulasi radiasi akibat makan padi tahan hama misalnya).

•    Pernah denger senjata dari uranium? Walaupun bahannya sama, tetapi cara pembuatan senjata dan penelitian ini berbeda. Pada pembuatan senjata, dipakai limbah dari pembuatan radioisotop. Jadi uranium diluruhkan terlebih dahulu, lalu dibakar. Nah, residu dari pembakaran inilah yang bisa meledak.

KONTROVERSI PLTN DI INDONESIA
Saat ini, Indonesia belum memiliki PLTN karena masalah izin dan berbagai pertimbangan dari segala aspek bidang. Padahal, jika ditinjau dari segi perbandingan kebutuhan bahan untuk memenuhi kebutuhan energi, PLTN merupakan solusi yang sangat baik karena bahan yang dibutuhkan sangat minim. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan besar energi yang sama, dapat dilihat kebutuhan bahan baku dari berbagai sumber energi:

Bisa dilihat, sektor nuklir, dalam hal ini uranium, membutuhkan sangat sedikit bahan untuk menghasilkan energi yang sama, yaitu hanya 21 ton saja. Namun pemerintah Indonesia sendiri untuk memenuhi kebutuhan energi khususnya untuk proyek 10000 MW pada 2025, lebih mengutamakan sektor batu bara sebagai pemasok bahan baku utama. Namun, Indonesia juga punya rencana untuk membangun PLTN di Pegunungan Muria, Jawa Tengah.

KRONOLOGIS REAKTOR FUKUSHIMA
Tau kejadian di Fukushima? Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan manusia. Pada dasarnya, prinsip reaktor adalah naiknya batang pengaman yang akan menaikkan suhu reactor seiring terjadinya reaksi fusi di dalam reactor tersebut.

Karena terjadi gempa, maka batang pengaman akan turun secara otomatis untuk menghentikan reaksi. Lalu pendingin pun akan otomatis bekerja untuk mendinginkan reaktor. Karena gempa, listrik pun mati. Secara otomatis, bahan bakar diesel akan bekerja untuk mendinginkan reaktor, namun ternyata mesin diesel tersebut terendam karena tsunami. Karena inilah pendinginan tidak terjadi dan terjadi ledakan Hidrogen yang terkena udara/oksigen. Ledakan ini bukan merupakan ledakan dari proses reaktor, namun ledakan hidrogen karena panas tersebut.

LABORATORIUM BATAN    


1.    Fasilitas Reaktor Nuklir

Setelah sesi tanya-jawab selesai, greeners diajak jalan-jalan ke laboratorium BATAN. Lab pertama yang dikunjungi adalah tempat fasilitas reaktor nuklir.

Reaktor di BATAN Bandung merupakan reaktor TRIGA Mark 2000 buatan Jerman. Selain di Bandung, terdapat dua reactor nuklir lainnya di Indonesia, yaitu di Serpong dan di Yogya.

Reaktor nuklir di sini berbentuk bulat dan di atasnya terdapat air murni yang berfungsi sebagai pendingin dan penahan radiasi. Sehari, penguapannya bisa sampai 1-3 cm, jadi terdapat pembuatan H2O. Di ruangan operator, tekanan ruangannya dibuat negatif dengan memakai blower agar mengurangi efek radiasi.

Bahan bakar yang dipakai adalah uranium 235 dengan total berat 3,2 kg. Dari tahun 1964 bahan bakar ini masih belum habis dan hanya baru terpakai 30 persennya saja. Bahan bakar ini dimasukkan ke dalam selongsong yang satu selongsongnya kira-kira 4 gram. Setiap uranium dilapisi oleh bahan zircinium hidrid untuk pengkayaan. Lapisan ini berfungsi sebagai penahan dan “penyalur” energi.
Pengkayaan ini dilakukukan berimbang, misalnya 30 : 70. Komponen zircinium hibrid diambil sesuai kebutuhan, jadi bukan uraniumnya yang diambil. Energi yang diambil pada reaktor ini sangat sedikit, karena hanya digunakan untuk penelitian, dan Batan ini tidak menghasilkan listrik.

2.    Lab Sintesis Senyawa Bertanda & Lab Teknologi Proses Radioisotop

•    Lab SSB: Mengembangkan radiofarmaka, yaitu penggunaan nuklir untuk bidang kesehatan. Radiofarmaka dapat digunakan untuk deteksi penyakit secara dini serta terapi kanker.

•    Lab TPR: Mengembangkan teknologi radioisotop untuk diaplikasikan dalam berbagai bidang.

3.    Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) Radioaktif

IPAL Radioaktif BATAN

Ibu Arie menjelaskan diagram alir pengolahan limbah

Limbah radioaktif dari BATAN ini diproses sendiri, namun sifatnya masih proses sementara. Untuk beberapa limbah dengan tingkat radioaktifitas tinggi akan dikirim ke BATAN Serpong untuk diproses lebih lanjut.

Definisi limbah yang diolah disini adalah segala sesuatu yang telah terpapar oleh radiasi yang bersifat radioaktif, misalnya air bekas cuci tangan pekerja di lab. Selain IPAL, juga ada pengolahan sampah dengan incinerator.

Setiap sampah dipilah di masing-masing ruangan, dan setiap limbah pun dipisahkan menurut radiasinya, yaitu tinggi, sedang dan rendah.  Limbah padat yang beradiasi rendah, diproses di Batan Bandung dengan dibakar dengan insinerator sampai 1200oC, sedangkan limbah lainnya diproses di Batan Serpong. Insinerator ini juga memiliki filter udara sehingga udara yang keluar tidak berbahaya. Filter ini memakai filter air pada teropong, sehingga kotoran pada udara akan turun dan terkumpul di bawah. Pada insinerator ini akan dihasilkan limbah 1/10 dari limbah aslinya.

4.    Lab Instrumentasi & Instalasi Pembuatan Nitrogen Cair

Dari IPAL, kami mengunjungi dua lab terakhir, yaitu lab instrumentasi yang menunjukkan alat pendeteksi radiasi dan instalasi pembuatan nitrogen cair yang menunjukkan nitrogen cair yang super dingin dan bisa membuat beku dalam sekejap.

Alat pendeteksi radiasi di lab instrumentasi

Peralatan di lab nitrogen cair

Greeners menuangkan nitrogen cair

Nah sudah selesai deh kunjungan greeners ke BATAN. CCE & U-green mengucapkan terima kasih banyak untuk pihak BATAN dan juga untuk greeners yang mau ikut jalan-jalan. Juga untuk pembaca artikel ini 😉 Semoga ilmunya bermanfaat ya! (Alin/Ica)


Biogas di Kampung Cibodas

Akhirnya hari ini adalah UAS terakhir! 🙂 Setelah UAS memang sudah berencana untuk survey ke Kampung Cibodas yang konon katanya sudah berkembang pemanfaatan biogasnya. Untuk apa? Jadi ceritanya saya dan teman-teman U-Green mau jalan-jalan sambil belajar 🙂 nah hari ini saya, Wisnu, Alin, Rizky, dan Icha main-main survey ke sana.

Yang ada di otak saya pertama kali mendengar Cibodas adalah di Bogor. Eits ternyata “Kampung Cibodas” namanya, yang letaknya di Lembang. Kami berlima naik mobil sedan milik Rizky.

Rani : “Cung, yakin nih ke sana pake sedan?”
Alin : “Lah ini mobilnya Cungut sedan”
Cungut : “Iya iya bisa kok”
Rani : “ok”

Perjalanan cukup jauh juga. Kami berangkat pukul 15.00 dan sampai pukul 16.30. Melewati Dago Giri, lalu teruuuss naiiik turuuuun dan jalanan masih “mulus”. Dua kali kami ditarik bayaran ketika masuk ke beda desa. Seribu rupiah saja ditukar dengan selembar tiket yang tidak tahu untuk apa. Serunya ketika sudah dekat pemandangan mulai hijau semua. Kami melintas di antara hutan dan tebing.

Daan ketika akan masuk ke belokan Kampung Cibodas, ada sedikit undakan daaaan….

ZROOOK! Suara keras dari bagian bawah mobil.

Akhirnya kami turun dulu dari mobil, dan setelah mobil berhasil melewati undakan itu, kami pun naik lagi. Jalanan menuju ke dalam sedang dalam perbaikan, jadi hanya ada satu jalur dengan kondisi jalan yang berbatu. Hampir tiap kali bagian bawah mobil berbenturan dengan jalan. Dan akhirnyaaa setelah agak menahan nafas, kami sampai di jalan mulus lagi. Kami berhenti sebentar untuk shalat ashar.

Setelah shalat kami memutuskan untuk berjalan kaki saja dengan meninggalkan mobil di depan gang masjid. Kami ditunjukan salah satu tempat biogas oleh bapak-bapak yang sedang membawa susu, Pak Asep namanya. Lokasi pertama letaknya di dalam gang. Kondisinya tidak terlalu bersih. Ada kandang sapi yang berimpitan dengan rumah warga. Kotorannya berceceran di mana-mana. Sistem kerja biogasnya sama dengan lokasi kedua, akan saya jelaskan lebih lanjut lagi.

Keadaan kandang sapi, yang meluber di bawah itu adalah kotoran sapi

kandang sapi diapit rumah warga

Pemanfaatan biogas di kompor

Pak Asep memberi rekomendasi untuk melihat biogas yang lebih baik di rumah Pak X (saya lupa namanya). Tetapi ketika kami kesana, tampaknya tidak ada orang. Kemudian kami memutuskan untuk bertemu dengan Pak RT, namanya Pak Maman.

Pak Maman katanya sedang nonton sisingaan. Wah saya jadi tertarik! Sambil berencana menemui Pak Maman, saya mau lihat sisingaan itu seperti apa.

Yang diangkat adalah berbagai macam, dari kursi, tangga, sampai motor!
Dan yang menahan di bawahnya adalah seorang Ibu-Ibu dengan kakinya saja

Sedang ada hajatan khitanan di sini. Awalnya kami enggan mencari dan memanggil Pak RT, tetapi setelah kami dibantu bapak hansip, Pak Maman dapat ditarik keluar untuk bercerita. Mengetahui maksud kami ingin menanyakan biogas, Pak Maman memanggil seseorang yang katanya paling mengerti, namanya Pak Anif. Kami pun diajak berkunjung ke kediamannya. Ternyata sistem biogas dan peternakannya sedikit lebih rapi dibanding yang tadi.

Penggunaan biogas di Kampung Cibodas telah dilakukan oleh 17 rumah. Mata pencaharian sebagian besar warga di sini (90%) sebagai peternak menjadi alasan kuat penggunaan teknologi ini. Hanya saja memang dibutuhkan biaya yang cukup mahal. Penggunaan biogas telah berlangsung selama 2 tahun. Pak Anif yang memulainya, dengan berawal dari menggunakan bahan gentong plastik hingga sekarang sudah 7 bulan menggunakan yang berbahan beton. Adanya teknologi ini rupanya mendapat subsidi dari Belanda. Pemasangan satu unit biogas seharga 6 juta, dan disubsidi 2 juta rupiah, Sehingga mereka harus membayar 4 juta. Pembayaran dengan kredit ke koperasi susu yang memotong uang susu 75 ribu rupiah per 15 hari. Selain itu pemilik biogas harus mempunyai peternakan sendiri, dan memiliki lahan cukup tentunya. Setiap hari dapat menghabiskan 3 kg kotoran sapi untuk satu hari pemakaian.

Suasana kandang Pak Anif

Jadi begini prosesnya :

  • Kotoran sapi yang dikumpulkan dimasukan ke dalam beton yang berbentuk seperti sumur. Kemudian diberikan air dan diaduk.
  • Kotoran akan turun ke bagian bawah yang berfungsi sebagai reaktor, yang diameternya 3 meter dan tingginya 1.8
  • Pengeluaran gas akan mengakibatkan padatan kotoran semakin turun
  • Gas yang akan digunakan disalurkan ke rumah melalui pipa
  • Sisa-sisa ampas dikumpulkan ke sebuah kolam untuk digunakan sebagai pupuk cair
  • Ampas keringnya dikumpulkan dan ditimbun
  • Ampas dikeringkan, dijadikan kompos

    Tanah coklat itu adalah timbunan kotoran. Yang dipindahkan secara manual dari kolam kotak tadi

    Hasil pupuk, teksturnya kering

    Tidak ada buangan yang dihasilkan proses ini. Hanya saja pemanfaatan ampas biogas sebagai pupuk belum dilakukan oleh seluruh warga. Beberapa masih membuangnya di aliran sungai. Pemanfaatan ampas sebagai pupuk dilakukan atas inisiatif warga sendiri.

    Kami sempat melihat pemanfaatan biogas di rumah Pak Anif. Ada yang untuk kompor dan lampu. tetapi lampu harus diberi pacuan dengan pemantik api.

Pipa biogas yang mengalir ke rumah

Meteran biogas

Lihat cairan merah di dalamnya, letika bagian kanan sudah menunjukan angka di bawah, maka biogas yang ada kurang.

Lampu dengan api, terdapat bahan kasa yang disulut api terlebih dahulu

Hari sudah akan gelap, kami memutuskan pamit dan membuat janji untuk kunjungan (InsyaAllah) pada bulan Januari. Wah tempat ini mandiri sekali! Perekonomian bersandar pada produksi lokal susu dan memanfaatkan buangan dengan menjadi bahan bakar dan penyubur tanaman. Salut! 🙂
(Rani)

SOLARIA: Mengenal Eco-lifestyle Bersama Program

Pada Kamis, 3 November 2011, tiga Program Eco-campus U-green: Waste Management, Bioconservation, dan CCE melaksanakan diskusi bersama tentang Eco-lifestyle di Ruang 9008, Gedung TL Lama.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh moderator, Keke (GD ’09), dilanjutkan dengan sambutan oleh Alin (BI ’09) sebagai Kepala Departemen Eco-campus. Kemudian, diskusi mengenai eco-lifestyle pun dimulai. Massa greeners diminta menyebutkan hal-hal apa saja yang berkaitan dengan eco-lifestyle, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk mindmap. Tiga pemateri yang membimbing keberlangsungan acara diskusi ini adalah Aha (KL ’10, WM), Ganjar (BI ’10, Bioconservation), dan Uswa (KL ’10, CCE). Berikut merupakan mindmap hasil awal diskusi.

Setelah massa greeners mengutarakan hal-hal apa saja yang berkaitan dengan eco-lifestyle, Ganjar menyampaikan materi tentang Eco-lifestyle dilihat dari sisi Bioconservation. Pada pembahasan ini dibahas seperti apa kondisi lingkungan sekarang, serta fakta-fakta tentang berbagai hewan dan daerah. Kemudian, Uswa menyampaikan tindakan apa saja yang dapat kita lakukan untuk meminimasi kerusakan lingkungan yang terjadi. Tentunya hal-hal ini adalah rangkaian kegiatan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti hemat air, hemat listrik, serta menggunakan transportasi sesuai kebutuhan. Terakhir, Aha menyampaikan tentang konsep 3R sebagai langkah awal untuk meminimasi timbulan sampah. Timbulan sampah yang tidak terkelola dengan baik tentunya dapat mengakibatkan dampak yang tidak nyaman ke lingkungan, sehingga dibutuhkan partisipasi dari setiap individu untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik, dimulai dari pemilahan sampai pengelolaan sampah.

Sesi diskusi yang berjalan dua arah ini kemudian dilanjutkan dengan istirahat shalat dan workshop pengolahan sampah plastik dari Bapak Asep sebagai pendiri unit usaha daur ulang “Paguyuban Daur Ulang Plastik”. Melalui konsep menyetrika plastik yang sudah tidak terpakai lagi, Pak Asep membuat kreasi tas, tempat pensil, jas hujan, dan berbagai benda lainnya yang tentunya unik dan menarik. Upaya Pak Asep ini selain menghasilkan keuntungan dari modal yang kecil, juga memberikan dampak berkurangnya volume sampah plastik di lingkungan.

Meskipun terlihat masih penasaran dengan pengolahan sampah plastik oleh Pak Asep, karena keterbatasan waktu, sesi workshop pun ditutup dan dilanjutkan dengan sesi games Ranking 1. Pada acara ini, dengan dibimbing Ryan (MRI ’10) sebagai MC, Greeners berlomba-lomba menjawab pertanyaan terkait materi eco-lifestyle dan workshop pengolahan sampah plastik yang telah dijelaskan sebelumnya. Games ini dimenangkan oleh tiga orang dengan predikat juara 1, juara 2, dan juara 3, dengan pemenang utama diraih oleh Bayu Adi (Greeners ’11).

Bagian penutup acara ini adalah pengenalan program kerja setiap program secara singkat, dari tiga kepala program: Melati sebagai Kepala Program WM, Desy sebagai Kepala Program Bioconservation, dan Ica sebagai Kepala Program CCE. Acara ditutup dengan pesan kepada Greeners untuk selalu menerapkan eco-lifestyle dalam kehidupan sehari-hari serta kepada Greeners 2011 untuk mengisi kuisioner pemilihan program sesuai minat mereka. (Ica)

Climate Change

Climate change atau perubahan iklim adalah sebuah fenomena alam dimana terjadi perubahan suhu global yang kemudian berdampak pada iklim di bumi. Selama lebih dari seratus tahun, tren dari temperatur global selalu naik, membuat bumi menjadi lebih panas daripada biasanya. Menurut NASA’s Goddard Institute for Space Studies, dari tahun 1880 hingga sekarang, suhu bumi naik hingga 0.80C. Efek dari perubahan iklim ini banyak sekali, dimulai dari kekeringan, banjir, krisis pangan, dan lain-lainnya.

Dalam berbagai studi, seperti misal pada ilmu geologi, disebutkan bahwa kejadian / fenomena geologi yang terjadi pada hari ini, pernah terjadi juga pada masa lampau (dalam skala waktu geologi). Ini berarti bahwa dahulu (ratusan juta tahun yang lalu), sebelum manusia pun ada, perubahan iklim pernah terjadi di bumi. Sehingga menurut pendapat beberapa orang, perubahan iklim ini hanya sebuah siklus yang berlangsung di bumi dan suatu saat suhu bumi pun akan menurun lagi tanpa harus melakukan sesuatu. Namun kondisi sekarang tentu sangat berbeda dengan dahulu, karena sekarang terdapat banyak kehidupan. Jika kondisi sekarang tidak diubah, maka hal ini akan mengancam keberlangsungan kehidupan di Bumi ini, apalagi ditambah dari aktivitas manusia, gas CO2 di atmosfer akan selalu meningkat sehingga akan terjadi efek rumah kaca dan suhu bumi pun akan selalu memanas. Penjelasannya ialah sebagai berikut:

Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi perubahan iklim saat ini. Yang pertama adalah faktor alam. Bumi memiliki suatu periode iklim yang bergantian secara konstan, yaitu periode glacial, dimana suhu bumi akan mendingin, dan periode intraglacial, dimana suhu bumi akan memanas. Fenomena alam yang dapat membuat kenaikan dan penurunan suhu contohnya adalah Letusan Gunung Api. Saat gunung api meletus, gunung api akan mengeluarkan material-material piroklas, seperti debu dll, ke atmosfer dan jika letusan itu amat dahsyat, akan mampu menutupi sebagian besar atau seluruh atmosfer di bumi sehingga tidak akan ada/ minim suplai sinar matahari yang masuk ke dalam bumi, dan itu akan menyebabkan suhu bumi menjadi turun dan memasuki periode glacial / zaman es. Ketika kabut yang menutupi atmosfer hilang, cahaya dapat masuk ke bumi dan memanaskan kembali suhu bumi dan lambat laun akan memasuki periode intraglacial.

Faktor yang kedua adalah faktor manusia. Seperti yang dilaporkan oleh NASA, bahwa sejak tahun 1880 hingga sekarang, telah terjadi kenaikan temperatur sebesar 0.8 derajat celcius. Dan pada awal abad 19 memang sedang gencar-gencarnya revolusi industri, dimana pemakaian mesin bergasbuang karbondioksida sangat besar jumlahnya. Jumlah gas karbon dioksida tersebut turut andil dalam kenaikan temperatur bumi saat ini, apalagi di jaman sekarang, bukan hanya pabrik, namun motor, mobil, pembakaran sampah jumlahnya makin banyak, sehingga makin banyak pula kandungan karbon dioksida pada atmosfer.

Terdapat satu elemen, selain pohon, yang dapat menyerap karbon dioksida pada atmosfer secara signifikan, yaitu air laut. Buih ombak pada laut atau biasa disebut bubble pada white cap, dapat mengikat CO2 menjadi asam karbonat yang dapat menurunkan pH air laut menjadi asam, dan berbahaya bagi ekosistem terumbu karang. Namun, pertukaran gas tersebut hanya terjadi tergantung dari suhu dan kecepatan angin. Bubble atau buih hanya dapat terjadi jika terjadi gelombang, yang mana membutuhkan kecepatan angin yang besar. Sedangkan pengaruh terhadap suhu yaitu jika suhu air laut tinggi, gas CO2 akan menuju atmosfer; jika suhu air laut rendah, gas CO2 akan menuju laut.

Sebenarnya gas rumah kaca atau karbon dioksida sendiri sangat penting bagi Bumi. Jika atmosfer Bumi tidak mengandung gas rumah kaca, suhu rata-rata di permukaan Bumi hanya akan mencapai minus 15 derajat Celsius. Namun jika jumlah gas rumah kaca juga melebihi ambang batas, akan sulit untuk Bumi “memulihkan” kondisinya dari suhu panas menjadi suhu dingin.

Menurut hasil penelitian dalam konferensi iklim di Paris mengenai perkiraan bencana alam global, dalam kurun waktu 2,7 juta tahun ini, fluktuasi antara zaman es dan zaman yang lebih hangat, amat stabil. Pengamatan iklim purba, atau Paleoklima di zaman gelologi Kuarter dari era Pleistosen hingga era saat ini Holozen, menunjukan bahwa dalam dua juta tahun terakhir ini, terjadi 16 siklus glasial dan interglasial. Zaman es biasanya berlangsung antara 50 ribu hingga 100 ribu tahun dan zaman yang lebih hangat antara 10 ribu hingga 20 ribu tahun.

Di zaman yang lebih hangat, kandungan karbon dikosida di atmosfir volumenya satu setengah kali lebih banyak dibanding pada zaman es. Jadi jika dilihat dari sejarah iklim bumi dalam kurun waktu beberapa juta tahun terakhir, zaman ini seharunya kita sudah memasuki zaman es berikutnya.

Penyebabnya, dalam 150 tahun terakhir ini, negara-negara industri maju memproduksi karbondioksida dalam jumlah amat besar, yang kemudian sampai ke atmosfir Bumi. Akibatnya, zaman es berikutnya sesuai fluktuasi iklim bumi, kemungkinan besar tidak akan datang. Bahkan menurut geolog asal Jerman, Gerald Haug, “Apa yang kita lakukan sekarang adalah sebuah rekayasa pada sistem ini. Kita akan mencapai sebuah nilai ambang batas, yang untuk pertama kalinya tidak dapat dibalik lagi. Jadi kita membuat produk artifisial dalam tatanan yang sama sekali berbeda, yang tidak lagi berkaitan dengan siklus alami. Dan kita membawa sistem iklim ini ke posisi sistem yang amat berbeda.

Karena itulah, kita harus menganggap climate change ini sebagai suatu hal yang serius. Walaupun para peneliti beropini segala macam rupa mengenai perubahan iklim, kita harus yakin dapat membawa bumi ini menuju keadaan yang lebih baik dengan bergerak bersama mengajak semua orang untuk peduli mengenai hal ini. Salah satu cara untuk melakukan perubahan yaitu dengan mengurangi emisi gas CO2. Menurut James Hansen dari NASA, ambang batas aman bagi level konsentrasi CO2 di atmosfer adalah 350 ppm, sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan di Hawaii, kadar CO2 di atmosfer ialah 386.6 ppm. Jadi untuk mengurangi dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, lakukanlah segala sesuatu dengan bijak. Apabila berpergian, hendaknya menggunakan sepeda atau jalan kaki atau menggunakan kendaraan umum; Matikan listrik apabila sedang tidak dipakai, dan lain sebagainya. (Dony)

CCE Today: Bikin Mading!

Hari ini akhirnya CCE memberdayakan madingnya yang sudah lama dibuat tapi belum ada isinya. Mading kali ini dibuat spesial untuk mengisi stand U-green di Seminar ETMC yang diadakan oleh FTSL ITB, dengan tema Climate Change & Air Pollution. Ini dia nih hasil karyanya:

Special thanks to: Wilma, Cungut, Ristry, Wiku, Vivi, Windi, Uswa, Kak Rendy 🙂

Efisiensi Energi: Mengurangi Konsumsi, Menjaga Kenyamanan

Pada Sabtu, 29 Oktober 2011 diselenggarakan Pelatihan Efisiensi Energi oleh EECCHI (Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia) di Kampus Universitas Padjajaran Dipati Ukur. Berikut merupakan pembahasan materi dari EECCHI yang dapat dibagi oleh Ica & Cungut yang mengikuti pelatihan tersebut, dengan ditambah referensi dari beberapa sumber.  

Apa itu efisiensi energi?

Efisiensi energi, yang di masyarakat lebih dikenal sebagai hemat energi, adalah kegiatan penggunaan energi lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah layanan yang sama.

Mengapa masyarakat enggan atau tidak menerapkan efisiensi energi?

Umumnya, masyarakat bersikap apatis terhadap masalah efisiensi energi ini karena mereka berpikir, apa yang mereka hemat tidak akan berpengaruh besar terhadap penghematan biaya maupun konsumsi energi secara keseluruhan. Ada juga masyarakat yang memang tidak tahu bahwa saat ini konservasi energi dalam bentuk efisiensi penggunaannya sangat dibutuhkan. Terkadang, bagi kalangan menengah ke atas, mereka bahkan tidak merasa perlu untuk melakukan penghematan energi karena merasa mampu membiayai konsumsi energi mereka. Pola pikir masyarakat yang seperti ini tentunya harus diubah.

Untuk menyalurkan energi, katakanlah dalam bentuk listrik ke rumah-rumah dan kawasan publik, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biasanya, untuk satu rumah tingkat menengah biaya pengeluaran untuk listrik per bulannya sekitar Rp 700.000,00. Biaya yang ditanggung oleh masyarakat ini sebenarnya adalah biaya yang sudah dikurangi dari biaya aslinya, karena terdapat subsidi dari pemerintah yang menanggung sisa biaya sehingga masyarakat tidak perlu membayar terlalu besar. Berdasarkan riset yang dilakukan, uang subsidi pemerintah untuk suplai energi di Indonesia selama tahun 2010 jika dialihkan untuk kebutuhan lain, dapat memenuhi hal-hal sebagai berikut: Subsidi pemerintah sendiri seharusnya secara otomatis akan dialihkan jika terdapat subsidi yang berlebih untuk sektor tertentu. Jadi, tidak benar menghemat penggunaan listrik tidak berdampak pada keuangan negara dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan.  

Bagaimana keterkaitan efisiensi energi dengan emisi CO2?

Emisi CO2 per orang di Indonesia lebih besar daripada di Cina. Jika divisualisasikan dalam bentuk bola sepak, emisi CO2 di Indonesia setara 9.030.000.000 bola sepak. Salah satu kontributor emisi ini tentunya adalah sektor penggunaan energi dalam berbagai bentuk (PLTU, BBM, dsb). Dampak dari emisi CO2 sendiri adalah pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut di Indonesia dapat berakibat fatal. Hal ini dapat dijelaskan melalui bagan berikut: Dikatakan fatal karena pertanian merupakan salah satu sektor utama yang mendukung ekonomi negara. Terhambatnya sektor pertanian akan menghambat perekonomian.  

Bagaimana dengan minyak?

Berdasarkan riset yang dilakukan, ketersediaan minyak bumi di Indonesia hanya cukup sampai 23 tahun lagi (jika penggunaannya tidak diefisienkan). Ketersediaan minyak bumi di dunia sendiri diprediksikan hanya cukup sampai tahun 2050 saja. Sementara itu, dari segi harga, hingga saat ini harga minyak bumi sudah mengalami kenaikan harga sampai 286%.  

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk berkontribusi dalam program efisiensi energi?

Cara menerapkan efisiensi energi dan potensi penghematan yang dilakukan secara garis besar dapat digambarkan sbb:

Langkah yang dilakukan

Potensi Penghematan

Perubahan perilaku menjadi lebih hemat energi 7% – 11%
Mengganti peralatan di tempat beraktivitas menjadi peralatan hemat energi

15% – 25%

Merenovasi tempat beraktivitas menjadi bangunan hemat energi 25% – 35%

Perilaku Hemat Energi seperti apa sih yang bisa diterapkan, dan seberapa besar biaya yang bisa saya hemat?

Media

Kiat Hemat Energi Secara Umum

Potensi Penghematan per bulan

AC

Atur suhu AC sesuai kebutuhan. Semakin dingin AC semakin besar energi yang dikeluarkan, semakin besar pula biaya yang dibutuhkan

Rp 215.000,00

Gunakan AC di ruangan yang benar-benar tertutup. Adanya kontak udara luar dengan udara di ruangan ber AC membuat AC berkerja lebih keras untuk mendinginkan ruangan
Bersihkan filter AC secara rutin

Lampu

Menggunakan lampu CFL atau lampu LED yang lebih hemat energi dibanding lampu pijar. Cahaya yang dihasilkan intensitasnya tetap sama.

Rp 140.000,00

Kulkas

Pilih ukuran kulkas sesuai kebutuhan. Semakin besar kulkas semakin besar daya yang dibutuhkan. Sebaiknya mengganti kulkas yang produk lama dengan produk baru, karena produk baru cenderung memiliki kebutuhan daya jauh lebih rendah.

Rp 450.000,00

Isi kulkas secukupnya agar pendinginan tetap efektif.
Hindari memasukkan benda panas ke dalam kulkas, karena membuat kulkas bekerja lebih berat.

Alat elektronik (TV, PC, Laptop, dsb)

Jika hendak meninggalkan PC/laptop, sebaiknya dimatikan saja atau di hibernate. Karena jika ditinggalkan dalam keadaan standby untuk periode waktu tertentu energi yang dikeluarkan jauh lebih banyak dibanding energi yang dibutuhkan saat menyalakan PC/laptop kembali. Untuk laptop, mode hibernate lebih hemat energi dibanding mode sleep.

Rp 55.000,00

Secara garis besar, kurang lebih melalui kiat di atas dapat menghemat sekitar Rp 5.400.000,00 per tahun.  

Bagaimana cara menghitung penggunaan energi dan biayanya?

1. Menghitung konsumsi energi

Konsumsi energi (kWh) = (jumlah watt x jam digunakan per hari) / 1000

2. Menghitung biaya pemakaian listrik per bulan

Biaya pemakaian listrik per bulan = Konsumsi energi (kWh) x tarif dasar listrik x 30 hari  

Apa yang dimaksud dengan “Energy Vampire”?

Energy vampire adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan barang-barang yang dalam kesehariannya dikoneksikan ke listrik namun tidak digunakan, sehingga energi yang mengalir terbuang percuma. Contoh energy vampire adalah charger handphone yang dicolok langsung ke stop kontak dan tidak pernah dilepas, atau colokan listrik yang karena diletakkan di bagian belakang dan sulit diraih sehingga orang cenderung malas mencabutnya. Listrik akan terus mengalir pada benda-benda ini meskipun statusnya sedang tidak dimanfaatkan, dan pemborosan listrik yang terjadi dari segi energi dan biaya yang terbuang nilainya sangat besar.  

Bagaimana dengan bangunan hemat energi?

Bangunan hemat energi adalah bangunan yang didesain sedemikian rupa sehingga memudahkan penggunanya untuk melakukan penghematan energi. Hal kecil yang dapat dicontohkan yaitu dengan mendesain saklar lampu kamar di dekat tempat tidur, sehingga orang yang mau tidur tidak malas untuk mematikan lampu karena saklarnya berada di dekatnya. Berdasarkan riset yang dilakukan di sebuah hotel, renovasi desain ini menghasilkan penghematan energi yang cukup signifikan.

Role model bangunan hemat energi contohnya di Australia, dimana penerapan konsep ini di sebuah perkantoran bertujuan untuk meningkatkan kesehatan pegawainya dibanding untuk menghemat energi. Ternyata, setelah diterapkan, terbukti persen penurunan sakit kepala, sakit flu, demam, dan mudah lelah pegawai kantor tersebut menurun sebesar 70%.

(Ica)

IAM 2 CCE Polusi Cahaya

Pada Jumat, 30 September 2011, diadakan IAM kedua CCE yang membahas mengenai polusi cahaya. Pada diskusi kali ini, CCE mengundang Kak Mahdi (EL ’08) dan Dinan (TL ’09) sebagai pembicara. Pembahasan polusi cahaya pada IAM ini menceritakan apa itu polusi cahaya dan apa saja jenisnya, bagaimana dampaknya bagi lingkungan dan makhluk hidup, serta solusi apa yang sekiranya dapat diterapkan untuk mengatasi masalah polusi ini. Ingin tahu lebih lanjut tentang polusi cahaya? Silahkan download notulensi dan slidenya di bawah ini

IAM #2 CCE Polusi Cahaya

IAM 2 CCE Polusi Cahaya